SAMSUMBA.com - Untuk pertama kalinya, Ma'had
Darul Qur'an Wal Hadits (MDQH) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Pancor
Lombok mengirim enam orang santri dan alumni untuk melaksanakan Safari Dakwah
di Pulau Salura Kabupaten Sumba Timur Nusa Tenggara Timur.
Mereka adalah Hamdan Rianto, Ikhwan Hakiki, Syahida, Lidia Silfiana, Siti Ramadhani dan Yolanda Putri Febriana. Mereka meninggalkan Lombok setelah dilepas dan mendapat arahan dari Amidul Ma'had, TGH. M. Yusuf Ma'mun.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh perjuangan, mereka tiba di Salura pada Selasa (10/2/2026). Awalnya mereka berangkat dari Lombok menggunakan Kapal Egon selama 22 jam dan tiba di Pelabuhan Waingapu pada Sabtu (7/2/2026) dini hari. Setelah menunggu cuaca yang kondusif beberapa hari di Waingapu, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan pick up menuju Waihaong sekitar 10 jam. Kemudian mereka menyeberangi lautan dengan kapal kecil selama kurang lebih satu jam hingga tiba di Salura.
Menurut salah satu peserta Tim Safari
Dakwah, Ustadz Hamdan Rianto, berbagai program telah dipersiapkan selama berada
di Salura. Di antaranya membantu proses belajar mengajar di madrasah, mengajar
ngaji bagi anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, mengimami shalat fardhu dan
shalat tarawih, memimpin tadarus Al-Quran, serta menyampaikan kultum dan
pengajian. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menambah semarak bulan suci
Ramadhan dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan pemberdayaan umat.
Salura sendiri merupakan wilayah yang
secara geografis terpencil dan kerap dipandang sebagai daerah terpinggirkan.
Letaknya di bagian selatan Pulau Sumba, dikelilingi lautan lepas, dengan akses
transportasi yang terbatas dan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Namun di
balik keterpencilannya, Salura dikenal memiliki keindahan alam yang luar biasa,
yaitu air laut yang jernih, pasir putih yang bersih serta kekayaan hasil laut,
terutama cumi-cumi yang menjadi andalan ekonomi masyarakat setempat.
Kehadiran para santri dan alumni Ma’had
NWDI Pancor Lombok di Salura bukan sekadar agenda rutin dakwah Ramadhan, tetapi
juga simbol keberpihakan terhadap daerah tertinggal. Langkah ini menunjukkan
bahwa dakwah tidak hanya hadir di pusat-pusat keramaian, tetapi juga menjangkau
wilayah-wilayah yang jauh dan membutuhkan sentuhan pembinaan keagamaan.
Diharapkan, Safari Dakwah ini dapat memperkuat semangat keislaman masyarakat
Salura sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan bahwa saudara seiman, meskipun
terpisah lautan, tetap saling peduli dan menguatkan. (fa)


